Feed on
Posts
Comments

Kapankah terakhir kali kamu merentangkan tangan menyambut angin samudera, dengan rambut berkibar disapa udara yang kering?

Mendekati bibir pantai dengan ragu-ragu, membiarkan setengah tungkaimu dijilat buih-buih ombak yang putih keruh. Kemudian menghindar saat ada gelombang yang cukup besar menghampiri tempatmu berdiri. Merasakan pasir di bawahmu dengan cepat terkikis ketika ombak itu kembali ke asalnya. Dan pijakanmu jadi goyah.

Bersikukuh untuk hanya bermain air dalam frekuensi moderat karena lupa membungkus pakaian ekstra…tapi terkalahkan oleh godaan ratusan liter air yang menerpamu. Lidahmu juga mencecap asinnya untuk yang pertama kali karena terpaan ombak itu menjungkalkanmu. Berlari-lari, tertawa, dan sekujur tubuhmu basah. Kemudian kamu merasa berhak mencibir pada turis-turis yang hanya datang untuk duduk di kejauhan, menghirup legit air kelapa, atau mencicip gurih ikan bakar.

Teman perjalananmu mengajakmu berteriak-teriak, dan kamu memilih cara lain untuk melepaskan lelah. Merangkum pasir dengan kedua telapak tanganmu, menjejalkannya di kepalan tangan kanan, dan melontarkannya ke arah pantai hingga pegal terasa.

Duduk di hamparan pasir, dengan sinar matahari sepenuhnya diserap pori-pori, membenamkan jemari dalam kumpulan butir hitam yang basah. Bermain membentuk berbagai pola, menggurat bentuk hati, menorehkan inisial namamu dan orang yang tengah kusayangi. Menapakkan kaki membentuk cekungan yang dalam, dan melihat semua jejak itu memudar disapu ombak. Sampai sinar matahari cukup menghangatkan kulitmu dan mengeringkan pakaianmu.

Menyaksikan bagaimana gesitnya gelombang menghantarkan perahu nelayan pulang, lalu berduyun-duyun ikut merapat untuk melihat jenis-jenis ikan yang tersangkut jaring, karena salah seekornya akan mendarat di piringmu untuk makan siang hari itu.

Kapankah terakhir kalinya kamu merasakan semua itu?

pantai depok, 14 juni 2008

 

 

Berkali-kali

Ada dua tipe pecinta buku fiksi. Yang pertama, membeli untuk dijadikan koleksi, sekali dibaca kemudian ditumpuk di rak. Yang kedua, membeli untuk mengalami, dan suka menikmatinya berkali-kali. Sebagian besar orang yang kukenal termasuk tipe yang pertama. Mereka kerap keheranan saat melihatku membaca sebuah buku untuk yang kesekian kalinya. Logika mereka, kalau sudah tahu ceritanya, buat apa dibaca ulang. Sudah nggak ada yang bikin penasaran.

Mengetahui alur ceritanya terlebih dahulu tak membuat minatku menyurut. Buat apa sih kita membeli buku kalau hanya untuk dibaca sekali? Bukankah jauh lebih ekonomis untuk sekedar meminjamnya di persewaan buku, kemudian mengembalikannya saat sudah selesai?

Orang-orang tipe pertama itu juga heran melihat emosiku terbangkitkan lagi, meskipun bukan kali pertama membaca.

Loh, kok ketawa lagi? Kan udah pernah baca?

Bukan cuma buku, aku sering memperlakukan film dengan cara serupa. Misalnya film Vanilla Sky, cerita aneh yang konon jeblok di pasaran, sudah kutonton sampai tigabelas kali.

Membaca, atau menonton film, berkali-kali selalu membawa pemahaman yang baru dan berbeda bagiku. Seolah sang penulis atau sutradara selalu mengubah alur bertuturnya. Padahal, mungkin yang berubah adalah pemikiranku atau pengalamanku saat menghadapinya untuk yang kesekian kali. Sudut pandangku sendiri yang membuat seolah-olah, aspek-aspek yang tersembunyi dalam pertemuan pertama, menjadi terang-benderang sesudahnya. Seolah-olah aku mengenalnya dan jadi punya kesempatan mendefinisikannya lagi. Seeing in a whole different light, istilah bulenya.

Demikian halnya dengan orang-orang terdekatku.

Seberapa sering sih kita merasa sudah kenal menyeluruh dan memahami karakter orang terdekat kita? Merasa bisa menyelesaikan kalimat yang tengah diucapkannya, melihat seperti apa otaknya berputar, menangkap motif-motif yang tersamar, mengetahui hal yang bahkan disangkalnya? Aku pribadi sering tak sengaja merasakan hal-hal itu.

Tapi di tengah jalan aku sering salah duga. Oh ternyata si A orangnya begini dan begitu. Dari aneka interaksi dalam beragam setting, ternyata orangnya tidak plek seperti yang kubayangkan sebelumnya. Rasanya bagaikan mengetahui bahwa ternyata lantunan ‘David, wake up’ dari mesin penjawab telepon di bagian awal dan akhir Vanilla Sky keluar dari mulut wanita yang berbeda. Dan pengetahuan sekecil itu membuka pemahamanku tentang hal-hal yang sebelumnya gelap di seluruh film. Menghasilkan prediksi yang berbeda tentang akhir film yang dibuat menggantung.

Dan kalau kesalahdugaan itu berbentuk hal yang tidak kita sukai, lalu berbuah kekecewaan, harap diingat bahwa kita sendiri kan yang keukeuh membaca buku atau melihat filmnya berkali-kali. Siapa suruh. Mungkin kalau hanya dinikmati sekali, kita bisa bertahan dengan kesan pertama yang baik dan menyenangkan, dan semua orang akan hidup berbahagia selama-lamanya.

Atau membiarkan semuanya berlalu dengan epilog : sudahlah, memang demikian adanya…

mbak astri : kok film-e mbingungi ya?

mya : pancen mbingungi kok, mbak :twisted:

Kalau Carrie Bradshaw, kolumnis chic di serial Sex and The City, membaptis dirinya sebagai shoe fetish, mungkin bisa dibilang kalau aku seorang fragrance fetish. Koleksi parfumku belum sampai taraf berlebihan, sekitar yang termuat di foto saja, tapi nampaknya lebih banyak dari yang dibutuhkan. Soalnya aku sering kebawa napsu sih kalo berada dalam radius beberapa meter dari pajangan parfum! Bahkan dengan koleksi beberapa botol itu, aku masih acap tak kuat iman ^_^ Jenis kosmetik yang lain sih bisa saja punya satu, tapi khusus parfum, hajar bleh!

Jelas, sebenarnya tak perlu punya parfum sebanyak itu. Jauh lebih baik kalau kita bertahan dengan serangkaian produk beraroma sama dan memakainya pada berbagai kesempatan, supaya kehadiran kita ‘diidentikkan’ dengan aroma itu.

Ini berhasil, setidaknya pada diriku yang scent-conscious. Ada empat orang yang hingga saat ini kuingat aromanya bahkan meskipun sudah tidak pernah kutemui. Pertama, guru sekolah mingguku semasa SD, kali terakhir kami berjumpa lebih dari satu dekade silam. Guru ini berambut ikal panjang terurai, dan setiap kali berdekatan atau duduk di boncengan motornya, aku bisa menghirup wangi menyenangkan dari tubuh dan rambutnya. Mungkin ini awal ketertarikanku pada parfum ya…I wonder. Kedua, mantan pacarku, yang harumnya sebenarnya berasal dari shower gel - jadi aroma maskulin ini hanya ada di seputar waktu mandinya. Ketiga, temanku dari pabrik berita, perempuan paling manis dan harum di kantor yang SETIAP saat memakai parfum beraroma powdery. Keempat, seorang staf humas dari Citibank yang menguarkan aroma Dream by Anna Sui. Aku mengingatnya karena itu kali pertama bisa mengidentifikasi wangi parfum seseorang ^_^; (halah, gitu aja bangga).

Kali ini aku mau berbagi cerita soal koleksi parfumku yang termuat di foto. Yuk marii…

1. Gerai-gerai parfum palsu, atau yang kusebut sebagai BMW (biang minyak wangi), yang menjamur di banyak pelosok menjadi pembelajar pertamaku soal beraneka aroma. Ternyata ada banyak banget ya jenis aroma, seperti segar/manis/klasik/maskulin, floral/fruity/kayu-kayuan, sampai yang ringan/medium/kuat. Dan pengetahuan itu hanya berfungsi sebagai alasan-alasan tambahan untuk membeli parfum baru. Karena keperluan dan mood yang berbeda butuh dipasangkan dengan parfum spesifik…

Bermula dari gerai BMW semacam ini, aku mulai sadar parfum dan sedikit menghafal macam-macam merek. Maklum, sebelumnya pengetahuan parfumku hanya sebatas merek low-end (halah). Di BMW, aromanya ‘bener’, dalam artian klop dengan aroma parfum yang diplagiat. Yang dibanyakin cuma kandungan alkoholnya, jelaslah supaya harganya terjangkau oleh kalangan jelata yang ingin gaya ^_^; Masalahnya, harga parfum tulen itu astahfirullah…100 ml bisa dijual dengan kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Bandingkan dengan parfum palsu a la BMW. Yang termurah dijual dalam kemasan stick mirip pulpen, 10 ml bisa dibeli dengan harga Rp 7500 saja. Dengan modal cekak, beragam aroma bisa dikantongi.

Yang satu ini adalah hasil kunjungan pertamaku ke BMW di bilangan Roxy. Tiruan dari Still - J.Lo yang beraroma melati, dikemas dalam botol plastik. Emak-emak abis aromanya. Ongkos kerusakan hanya Rp 10 ribu untuk 20 ml.

2. Green Tea dari Elizabeth Arden. Ini juga keluaran BMW di bilangan Kebayoran Lama. Dari segi penampilan lebih nampak valid, karena menggunakan botol kaca. Saat pameran budaya Jepang di Universitas Negeri Jogjakarta tiga tahun lampau, aku dan teman kosku pernah membuntuti mbak-mbak yang beraroma green tea. Sang teman kos memaksaku bertanya pada mbak-mbak itu, apa sih merek parfumnya. Ternyata Elizabeth Arden ini.

Wewangian ini (aslinya) segar, crisp, dan ringan. Tapi karena mas-mas BMW mencampur alkohol dengan semena-mena, beberapa detik setelah disemprotkan, aku harus menahan nafas sekuat tenaga. Menyengat banget. Setelah itu, baru aroma aslinya bisa keluar.

3. Ini spray She Sporty. Eits, meski mereknya pasaran, variannya nggak pasaran lo…secara udah discontinue. Dapatnya bukan di toko, tapi di apotek yang menjelma sebagai kosku di Jakarta. Sempet nyari-nyari di toko biasa tapi nggak kunjung nemu. Apoteknya enggak pernah update koleksi barang, jadi yang satu ini masih dipajang. Jangan-jangan udah kadaluwarsa ya *curiga mode on*. Beli spray ini untuk dipakai di rumah saja atau sebelum tidur (penting ya? Hihihi, buatku sih penting).

4. Aromabliss dari Oriflame, yang dibeli saat diskon 20%. Top banget deh wanginya, meski teman kosku suka memelesetkan namanya jadi aroma iblis. Perpaduan dari jeruk, lemon, dan kapulaga. So uplifting, pas banget untuk membangkitkan mood di pagi hari. Apalagi kalo bangunnya jam empat pagi, sarapan jam lima lebih, dan jam enam sudah harus sampai kantor untuk bekerja selama 12 jam berikutnya (berasa kenal deh dengan jenis kehidupan itu…)

5. Mixte pink, wewangian manis dan longlasting dari mantan pacar seorang teman. Nuff said.

6. Estee Lauder Pleasure Exotic, beraroma fruity dan ringan. Nah, ada lagi yang lebih canggih dari BMW, yakni penjual parfum bajakan yang bisa mengemas produk dengan kemasan hampir persis asli, ditambah kardus bersegel! Mereka beroperasi di berbagai pusat perbelanjaan dan juga merangsek ke kantor-kantor. Berhubung parfum yang ini kemasannya simpel, maka tampilannya sebelas-duabelas dengan versi aslinya. Buat parfum yang kemasannya lebih rumit, seperti Jean Paul Gaultier (yang bentuknya torso perempuan bergaun mepet) maka tampilan parfum palsunya lebih kasar. Oh ya, parfum semacam ini dibandrol dengan satu harga, Rp 50 ribu di ITC Ambassador.

7. Divine dari Oriflame. My current obsession. Dibeli dengan harga diskon (kok dari tadi ceritanya beli diskonan terus ya) dari kawan gereja mamaku. Aromanya diawali dengan sentuhan ringan bambu, kiwi, dan violet. Kemudian disusul six petal orchid, dan diakhiri dengan harmoni musk dan kayu-kayuan. Kok tahu? Iya lah, aku nyontek mati dari katalognya…hahahaha.

Berbelanja merek dari Swedia ini keuntungannya (atau kerugiannya) adalah karena banyak jenis produk dari wangi yang sama. Nggak cuma parfum. Semisal body cream, deodoran, spray, dan aftershave. Jadi semakin konsumtif…eh maksudnya kalau dipakai bebarengan, wanginya semakin solid dan kuat.

8. Flower by Kenzo, parfum yang sebenarnya milik mamaku, tapi sering kucuri-curi pakai. Klasik, anggun, powdery, unbeatable! Kalau mencium wanginya, rasanya hanya layak digunakan untuk acara di malam hari. Aromanya terasa sangat perempuan.

Nah, dengan kedelapan botol yang tersedia ini, benakku masih saja aktif membuat mental note tentang parfum lain yang ingin dibeli. Duh. Yang lebih parah lagi, setelah mengambil foto, aku baru sadar kalo masih ada beberapa botol yang luput disertakan. Entah karena kelewat mungil, atau karena termasuk deretan parfum anak dan parfum lelaki sehingga otomatis tersingkir dari daftar.

Wewangian favoritmu yang seperti apa?

tompi

(semalam, saat nonton acara launching produk kecantikan di tivi)

mama : Itu siapa sih yang nyanyi? Kok suaranya jelek?

saya : *melirik sekilas* Oh, itu sih namanya Tompi…

mama : Yang boneka itu ya?

saya : Hahaha, itu sih Tongki kaliii…*ngakak*

Kadangkala ada hujan yang lain. Yang berhulu dari sudut mata yang membasah, kemudian perlahan membentuk sungai kecil di lekuk pipi. Terlepas, bergulir di kerah baju, tersangkut di serat kain, terhisap dan mengecil. Hujan itu nantinya pasti menorehkan jejak berupa lingkaran gelap di permukaan bantal dan lingkaran samar di bawah mata - yang senantiasa kubenci bila melihatnya di pagi berikut. Karena ia hadir leluasa hanya pada malam hari, dan seringkali tersangkal di sisa waktu yang lain.

Kadangkala ada hujan yang lain. Yang hangat karena terjerang emosi. Yang berat karena sarat oleh luapan rasa yang tertimbun dalam puluhan jam, tapi sekaligus ringan karena mampu mengurasnya. Untuk apa? Untuk kemudian diisi penuh kembali? Aku tidak merangsangnya hanya sekadar untuk merasa lega, pun menahannya jika dia mendesak keluar karena ada yang sesak di dada. Dia bukannya datang saat aku mencintai melankoli. Dia hadir ketika aku dikalutkan oleh pemikiranku sendiri dan menyangsikan apa yang seharusnya kurasakan - apapun selain hujan yang nyaris turun itu…apapun pasti lebih baik. Dia ada kalau aku mulai lelah terbentur ketidakpastian. Meski tadi malam aku membaca bahwa kepastian sejatinya adalah indikasi kedua matinya mimpi. Tahukah kamu apa yang pertama dan yang ketiga? Kata penulis itu, yang pertama adalah kekurangan waktu dan yang ketiga adalah kedamaian.

Maka hujan itu bukan kamu yang membuatnya. Ini mutlak urusanku dengan perasaanku sendiri. Oh ya, kamu tak perlu merasa bersalah seperti itu.

Kadangkala ada hujan yang lain. Yang ada meski kamu tak akan kubiarkan menyaksikannya. Bukan karena aku tak sudi mengijinkanmu melihatku rapuh. Hanya karena bila itu terjadi, kamu tak akan lagi meyakini bahwa hujan itu indah.

Entah siapa yang melakukan, tiba-tiba halaman email yahooku berubah menjadi tidak classic (namanya apa ya). Aku baru menyadari kalau di tampilan anyar itu ada menu-menu baru yang menarik untuk diulik. Saat iseng-iseng membuka kotak arsip draft (yang hanya dihuni satu email), tiba-tiba aku menemukan awal semuanya. Surat elektronik yang bertanggal enam tahun lalu, tepatnya 22 Juli 2002. Saat itu aku baru lulus SMA, sedang menyiapkan tetek bengek mendaftar ke universitas. Surat itu berbunyi :

Hallo,

I just randomly come to your web site. Boleh gak aku minta alamatmu yg di Geocities yg gak dipake? Soalnya aku udah bikin website cuma belom punya alamat. Please…

Ini ada sample hal pertamanya.

Dan itu awal dari semuanya, awal aku berjumpa dengan sahabatku. Memang nggak salah kalau ada yang bilang, jodoh itu bukan hanya soal pasangan hidup….tapi juga soal tempat tinggal, pekerjaan, atau sahabat…Karena nyatanya dua orang yang seberbeda kami akhirnya bisa berjejalin. Hanya disebabkan oleh kebegoanku - seorang anak lepas SMA yang belum khatam HTML dan ingin mendapatkan alamat ’site’ yang keren. Aku saat itu belum mengerti bahwa alamat site di geocities langsung terhubung dengan file managernya. Hehehe…

What a twist of fate.

tmn : eh mya…gak berasa kami udah jalan 4 tahun loh
mya : iya? lama juga ya, pasti udah kepikiran ke jenjang yg lebih lanjut…
tmn : iya
tmn : tungguin sedikit kebebasan finansial
mya : kenapa cuma ’sedikit’?
tmn : kan lama2 menjadi bukit
mya : hahaha. halah.
mya : kapan dan bagaimana sih seorang lelaki bisa yakin bahwa she’s the one?
tmn : aku juga ga tahu yah
tmn : kalo aku sih cm ngebayangin bahwa dia bisa tahan ma aku
tmn : yah dari selama ini kita bisa ngejalin komunikasi yg baik, toleran, yah liat dari hubungan kita aja
tmn : dan yang paling bilang she’s the one adalah bayangan bahwa dia akan menjadi ibu yang baik bagi anak2ku, betapa beruntungnya anakku bisa punya ibu seperti dia
tmn : mungkin sedikit berlebihan sih kedengerannya
tmn : cm ya…
tmn : itu beneran yg aku rasain
mya : nggak berlebihan kok…itu tepat banget kedengerannya

SIGH.
Omongan si teman menghantuiku malam itu.

PS : Bisa nebak nggak, siapa lawan bicaraku dalam penggalan percakapan ini? Kalo aku kasih tau angkatannya, pasti pada ngerti. hehehe

Aku selalu bilang, aku bisa menghadapi segala hal asalkan ada teman-teman yang setia mendukungku. Tapi bagaimana kalau mereka tak mau ada?

I’ve been crying myself to sleep in two consecutive nights, so long that I ended up having puffy eyes that stayed until lunch time, literally. Gara-garanya mungkin sepele, tapi sudah mulai terakumulasi dari beberapa pekan lampau. Saat seorang teman menolak mencarikanku sebuah artikel dengan alasan tengah deadline, padahal dia bisa saja melakukannya dalam hitungan detik. Saat beberapa orang lainnya tak kunjung membalas pesan singkatku, bahkan hingga saat ini, yang menanyakan kontak beberapa orang yang kuperlukan untuk keperluan survei atau mencari kerja. Saat teman lainnya juga tidak membalas ucapan selamat yang langsung kukirimkan saat melihatnya mendapatkan promosi di kantor. Saat lebih banyak lagi yang mengaku berhalangan kalau kuajak bertemu, padahal aku selalu memperhatikan jadwal kerja mereka sebelum memutuskan waktu. Saat tiga temanku secara bersamaan dan berulang-ulang tidak bisa menyediakan tempat menginap ketika aku ingin berkunjung.

Begini rupanya rasanya harus mengemis waktu teman-temanku, yang biasanya bisa kuandalkan. Status jobless itu mungkin menular ya, sampai mereka merasa perlu menghindar. Aku sakit hati, emosi, dan capek. Makanya jangan tanya kalau beberapa hari ini, status ‘friendship is shit’ tak tergoyahkan dalam status kotak cakap mayaku. Hal yang dulu kulontarkan pada seorang teman rupanya terpantul kembali padaku : Jangan mengharapkan orang lain mendukungmu, karena kamu cuma bakal dikecewakan.

Piknik Itu

Aku mendahuluinya menyusuri jalan itu, menuju tempat kesukaan kami di bawah pohon berbunga. Dia tampak kepayahan membawa keranjang rotan yang sarat bekal, sedangkan tugasku menggelar kain kotak-kotak putih merah yang kami usung dari rumah. Ini memang piknik seperti dalam buku cerita. Lihat saja isi keranjang cokelat kami : roti gandum, sebotol selai dan pisau plastik, bola-bola kroket keju, dan tak lupa pai apel kesukaannya. Gampang saja membuatnya. Potong apel bentuk dadu sedang, cuci, masukkan dalam panci, beri air lemon, bubuhi bubuk kayu manis, dan masak sampai kering untuk kemudian dimasukkan dalam kulitnya. Eh, jangan menuduhku memasaknya sendiri. Subuh tadi aku sudah mengantri sambil kedinginan di muka bakeri laris pojok kota, demi mendapatkan camilan yang amat dia suka ini. Aku cukup tahu diri untuk tidak memasakkan pai apel untuknya, supaya dia tak perlu membandingkan rasanya dan menghibur usaha kerasku, padahal lidahnya tak menyukainya. Aku menanyakan resepnya sekadar berjaga-jaga, bila suatu saat bakeri itu berhenti memanggang pai apel, sehingga dia tak punya pilihan lain selain memintaku membuatkan untuknya.

Aku sendiri mungkin tak akan menyantap semua makanan yang kusiapkan itu. Karena aku tak terlalu butuh piknik-a-la-buku-cerita-ini, dibandingkan menghabiskan waktu dengannya. Buat diriku sendiri, cukup telur dan mi goreng instan yang tersimpan dalam wadah kotak plastik, yang akan membuatnya ikut berwujud kotak sempurna pada jam makan siang nanti.

Dan kami berbicara, berdebat, lalu berbaikan kembali. Tidaklah penting mengenai apa, menyaksikan dia mendengarkanku sudah membuang sebagian bebanku. Yang jelas aku bercerita tentang proyek ini, proyek menulis mengenai dia setiap hari. Bisa singkat, bisa panjang, bisa fiksi, bisa kenyataan. Tentang fragmen-fragmen yang hanya ada dalam khayalan. Mungkin suatu hari aku akan merangkumnya dalam sebuah novel, menggabung-gabungkan semua potongan yang sudah kutulis, semua ingatan soal dia, menjilidnya, dan menuliskan di halaman persembahan : Buat Kamu.

“Kalau cuma seperti itu, bagaimana aku tahu kamu menulisnya untukku? Kenapa tidak menyebutkan nama asliku?”, tuntutnya.

“Kamu akan tahu dari ketulusan dalam kata-katanya. Kamu akan tahu dari kejadian-kejadian yang tak pernah terjadi, tapi kutambahkan di dalamnya, ketika kamu tak ada. Kamu akan tahu manakah fantasi yang sepi”, jawabku pasti.

Yang jelas, dia akan tahu dari banyaknya masa absennya dari hidupku, dan dari coretan-coretanku di halaman belakang yang menandai berapa lama aku tidak bertemu dengannya. Semua tulisan itu merupakan jembatan menuju keberadaannya.

Tapi semoga dia nanti tak kecewa, andaikata potongan-potongan tulisan itu kelak tak menjadi apa-apa. Tak berwujud novel yang kapanpun bisa dia bawa dan intip bila memerlukan pengingat bahwa dia bermakna. Tak jadi apa-apa pun tak jadi soal. Karena jujur saja, aku tak punya metafora yang dahsyat untuknya, seperti soal senja, leret sinar matahari, daun yang berguguran, atau dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.

“Ingatkan lagi, kenapa kamu sekarang di sini?”, tanyaku. Semoga itu karena sekarang tanggal dua juni.

Aku lelah dengan bertubinya pertanyaan dan pengharapan orang-orang itu. Bosan dengan penilaian mereka yang menyesalkan keputusanku. Letih dengan interogasi mereka yang bahkan tidak berbuah dukungan moril sekalipun! Aku cuma ingin bilang, bukan kalian yang menghadapi semua itu…itu semua bukan seperti yang pernah kalian bayangkan, jauh lebih parah dari yang kalian tahu. Dan bila kalian berjalan mengenakan sepatuku, kemungkinan besar kalian akan mengambil kebijakan persis sepertiku! Begitu sulitkah untuk mengerti? Buat apa menasehatiku tentang semua yang sudah kutahu, cuma untuk menegaskan bahwa kalianlah yang paling benar? You people don’t know shit. Menurut kalian mudahkah menyampaikan kabar buruk?

Siapa Aku (by Captain Jack)

terkadang ku merasa sangat tak berguna
bila semua yang kulakukan pasti disalahkan
terkadang ku merasa menjadi yang terbodoh
tak mengenal apapun
bahkan diriku sendiri

semua menyebalkan!
semua angkat bicara
dan merasa paling benar dalam menilaiku
semua slalu berlomba menyalahkan diriku
apa pernah mereka lihat diri sendiri?

siapa aku - jawablah siapapun yang merasa mengenalku
siapa aku - mengapa semua orang merasa paling mengenalku

kenapa terlalu banyak musuh di kepala
hingga ku kehilangan aku

kalian siapa?
ini hidupku………berhenti menghakimiku! berhentilah menilai!

Older Posts »