Kalau Carrie Bradshaw, kolumnis chic di serial Sex and The City, membaptis dirinya sebagai shoe fetish, mungkin bisa dibilang kalau aku seorang fragrance fetish. Koleksi parfumku belum sampai taraf berlebihan, sekitar yang termuat di foto saja, tapi nampaknya lebih banyak dari yang dibutuhkan. Soalnya aku sering kebawa napsu sih kalo berada dalam radius beberapa meter dari pajangan parfum! Bahkan dengan koleksi beberapa botol itu, aku masih acap tak kuat iman ^_^ Jenis kosmetik yang lain sih bisa saja punya satu, tapi khusus parfum, hajar bleh!

Jelas, sebenarnya tak perlu punya parfum sebanyak itu. Jauh lebih baik kalau kita bertahan dengan serangkaian produk beraroma sama dan memakainya pada berbagai kesempatan, supaya kehadiran kita ‘diidentikkan’ dengan aroma itu.
Ini berhasil, setidaknya pada diriku yang scent-conscious. Ada empat orang yang hingga saat ini kuingat aromanya bahkan meskipun sudah tidak pernah kutemui. Pertama, guru sekolah mingguku semasa SD, kali terakhir kami berjumpa lebih dari satu dekade silam. Guru ini berambut ikal panjang terurai, dan setiap kali berdekatan atau duduk di boncengan motornya, aku bisa menghirup wangi menyenangkan dari tubuh dan rambutnya. Mungkin ini awal ketertarikanku pada parfum ya…I wonder. Kedua, mantan pacarku, yang harumnya sebenarnya berasal dari shower gel - jadi aroma maskulin ini hanya ada di seputar waktu mandinya. Ketiga, temanku dari pabrik berita, perempuan paling manis dan harum di kantor yang SETIAP saat memakai parfum beraroma powdery. Keempat, seorang staf humas dari Citibank yang menguarkan aroma Dream by Anna Sui. Aku mengingatnya karena itu kali pertama bisa mengidentifikasi wangi parfum seseorang ^_^; (halah, gitu aja bangga).
Kali ini aku mau berbagi cerita soal koleksi parfumku yang termuat di foto. Yuk marii…
1. Gerai-gerai parfum palsu, atau yang kusebut sebagai BMW (biang minyak wangi), yang menjamur di banyak pelosok menjadi pembelajar pertamaku soal beraneka aroma. Ternyata ada banyak banget ya jenis aroma, seperti segar/manis/klasik/maskulin, floral/fruity/kayu-kayuan, sampai yang ringan/medium/kuat. Dan pengetahuan itu hanya berfungsi sebagai alasan-alasan tambahan untuk membeli parfum baru. Karena keperluan dan mood yang berbeda butuh dipasangkan dengan parfum spesifik…
Bermula dari gerai BMW semacam ini, aku mulai sadar parfum dan sedikit menghafal macam-macam merek. Maklum, sebelumnya pengetahuan parfumku hanya sebatas merek low-end (halah). Di BMW, aromanya ‘bener’, dalam artian klop dengan aroma parfum yang diplagiat. Yang dibanyakin cuma kandungan alkoholnya, jelaslah supaya harganya terjangkau oleh kalangan jelata yang ingin gaya ^_^; Masalahnya, harga parfum tulen itu astahfirullah…100 ml bisa dijual dengan kisaran Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Bandingkan dengan parfum palsu a la BMW. Yang termurah dijual dalam kemasan stick mirip pulpen, 10 ml bisa dibeli dengan harga Rp 7500 saja. Dengan modal cekak, beragam aroma bisa dikantongi.
Yang satu ini adalah hasil kunjungan pertamaku ke BMW di bilangan Roxy. Tiruan dari Still - J.Lo yang beraroma melati, dikemas dalam botol plastik. Emak-emak abis aromanya. Ongkos kerusakan hanya Rp 10 ribu untuk 20 ml.
2. Green Tea dari Elizabeth Arden. Ini juga keluaran BMW di bilangan Kebayoran Lama. Dari segi penampilan lebih nampak valid, karena menggunakan botol kaca. Saat pameran budaya Jepang di Universitas Negeri Jogjakarta tiga tahun lampau, aku dan teman kosku pernah membuntuti mbak-mbak yang beraroma green tea. Sang teman kos memaksaku bertanya pada mbak-mbak itu, apa sih merek parfumnya. Ternyata Elizabeth Arden ini.
Wewangian ini (aslinya) segar, crisp, dan ringan. Tapi karena mas-mas BMW mencampur alkohol dengan semena-mena, beberapa detik setelah disemprotkan, aku harus menahan nafas sekuat tenaga. Menyengat banget. Setelah itu, baru aroma aslinya bisa keluar.
3. Ini spray She Sporty. Eits, meski mereknya pasaran, variannya nggak pasaran lo…secara udah discontinue. Dapatnya bukan di toko, tapi di apotek yang menjelma sebagai kosku di Jakarta. Sempet nyari-nyari di toko biasa tapi nggak kunjung nemu. Apoteknya enggak pernah update koleksi barang, jadi yang satu ini masih dipajang. Jangan-jangan udah kadaluwarsa ya *curiga mode on*. Beli spray ini untuk dipakai di rumah saja atau sebelum tidur (penting ya? Hihihi, buatku sih penting).
4. Aromabliss dari Oriflame, yang dibeli saat diskon 20%. Top banget deh wanginya, meski teman kosku suka memelesetkan namanya jadi aroma iblis. Perpaduan dari jeruk, lemon, dan kapulaga. So uplifting, pas banget untuk membangkitkan mood di pagi hari. Apalagi kalo bangunnya jam empat pagi, sarapan jam lima lebih, dan jam enam sudah harus sampai kantor untuk bekerja selama 12 jam berikutnya (berasa kenal deh dengan jenis kehidupan itu…)
5. Mixte pink, wewangian manis dan longlasting dari mantan pacar seorang teman. Nuff said.
6. Estee Lauder Pleasure Exotic, beraroma fruity dan ringan. Nah, ada lagi yang lebih canggih dari BMW, yakni penjual parfum bajakan yang bisa mengemas produk dengan kemasan hampir persis asli, ditambah kardus bersegel! Mereka beroperasi di berbagai pusat perbelanjaan dan juga merangsek ke kantor-kantor. Berhubung parfum yang ini kemasannya simpel, maka tampilannya sebelas-duabelas dengan versi aslinya. Buat parfum yang kemasannya lebih rumit, seperti Jean Paul Gaultier (yang bentuknya torso perempuan bergaun mepet) maka tampilan parfum palsunya lebih kasar. Oh ya, parfum semacam ini dibandrol dengan satu harga, Rp 50 ribu di ITC Ambassador.
7. Divine dari Oriflame. My current obsession. Dibeli dengan harga diskon (kok dari tadi ceritanya beli diskonan terus ya) dari kawan gereja mamaku. Aromanya diawali dengan sentuhan ringan bambu, kiwi, dan violet. Kemudian disusul six petal orchid, dan diakhiri dengan harmoni musk dan kayu-kayuan. Kok tahu? Iya lah, aku nyontek mati dari katalognya…hahahaha.
Berbelanja merek dari Swedia ini keuntungannya (atau kerugiannya) adalah karena banyak jenis produk dari wangi yang sama. Nggak cuma parfum. Semisal body cream, deodoran, spray, dan aftershave. Jadi semakin konsumtif…eh maksudnya kalau dipakai bebarengan, wanginya semakin solid dan kuat.
8. Flower by Kenzo, parfum yang sebenarnya milik mamaku, tapi sering kucuri-curi pakai. Klasik, anggun, powdery, unbeatable! Kalau mencium wanginya, rasanya hanya layak digunakan untuk acara di malam hari. Aromanya terasa sangat perempuan.
Nah, dengan kedelapan botol yang tersedia ini, benakku masih saja aktif membuat mental note tentang parfum lain yang ingin dibeli. Duh. Yang lebih parah lagi, setelah mengambil foto, aku baru sadar kalo masih ada beberapa botol yang luput disertakan. Entah karena kelewat mungil, atau karena termasuk deretan parfum anak dan parfum lelaki sehingga otomatis tersingkir dari daftar.
Wewangian favoritmu yang seperti apa?